Tuesday, August 30, 2011

H-14

Gak hanya Iedul Fitri aja yang menggunakan istilah H-.  Keberangkatanku juga ku hitung.  Efektif 14 hari lagi aku berangkat.  Agak deg-degan, agak berat mikir akan meninggalkan anak-anak tapi juga excited karena akan merasakan pengalaman baru.  ih norak ya!!!
Btw, ini memang sedang Iedul Fitri.  Pas.  Tadi pagi Ais dan Ayahnya Sholat Fitri.  Aku tidak karena memang masih M, sementara itu Idho, ikut Iedul Fitri besok, karena ia memilih tinggal di rumah Bude.  Gpp.  Perbedaan bikin meriah.  Hari ini, menurut Muhammadiyah sudah 1 Syawal, sementara pemerintah baru menetapkan besok.  Jadinya, Iedul Fitri kami sepi deh.  Siang-siang begini kami masih santai, internetan.  Males masak juga, gak tahu nih mau makan apa nanti.
Ngomong-ngomong soal makanan, buat persiapan ke Aussie aku sudah siapkan super bubur, bumbu rawon, bumbu nasi kuning, bumbu rendang, masing-masing cuma satu.  Buat cadangan dan tombo pengen aja barang kali sewaktu-waktu kangen. Karena katanya aturan membawa cairan adalah max 100 mm, kemarin aku beli sampoo, sabun cair, semua kemasan kecil aja.  Bukan karena takut bawa yang besar tapi karena yang kecil aja menurutku cukup, karena aku jarang mandi..he...he...
Sampai sejauh ini, visa sudah terbit, tiket internasional sudah issued.  Alhamdulillah.
Yang harus kulakukan setelah hari raya ini adalah,
  1. pamitan kepada semua profesor promotor
  2. Ambil SPPD di mbak Yani dan Paspor di Mbak Lely (thanks alot to both of them)
  3. Perbaharui SIM (Waduh ini harus, udah terlambat, kemarin waktu mau memperbaharui ternyata bahan bakunya habis katanya)

Friday, August 12, 2011

Siap-siap ke Aussie untuk Program Sandwich

Alhamdulillah, aku dan tiga teman sekelas mendapat beasiswa program sandwich like ke Aussie.  Sayangnya kami tidak satu kota.  Terpaksa kami pisahan.  Meskipun demikian, dalam reservasi tiket, kami ngeyel agar dapat satu pesawat untuk masuk ke Aussie lewat Sydney.  Baru disitu kami akan berpisah menuju kota tujuan masing-masing.
Kalau ditanya, apa persiapannya??? Wuah... banyak.  Baik persiapan administrasi berkaitan dengan penerimaan beasiswa itu sendiri, maupun persiapan berkaitan dengan apa yang akan dibawa dan yang lebih penting adalah persiapan mental dan kemampuan diri sendiri dalam menghadapi kehidupan baru di LN.
Sampai saat ini, kami sudah mengurus visa, meskipun belum selesai, mengurus reservasi tiket, cari penginapan, cari asuransi dan mengajukan permohonan dana talangan.  
Dana talangan ini penting karena ditakutkan dana dari DIKTI terlambat turun, sementara kami harus segera berangkat.  Ini dialami oleh peserta sandwich tahun lalu.  Beruntung Universitas Brawijaya bersedia memberi dana talangan.
Kami juga bersyukur, ternyata uni kami sangat bijak karena bersedia memberi talangan.  Kami dapat info dari uni lain (yang tidak perlu disebut namanya) tidak bersedia memberi talangan.  Katanya, kalau mau pergi ke Aussie dengan beasiswa sandwich ya harus menggunakan dana sendiri dulu, kalau perlu jual kambing. 
Hah... untuk memulai program ini, selain persiapan biaya hidup kira-kira satu bulan, kita juga harus bayar bench fee sekitar AUD 4,000.  Kalau harus jual kambing ya harus kambing sekandang atau sekandangnya, baru bisa bayar. 
Sekali lagi Alhamdulillah, kami dapat dana talangan.  Double alhamdulillah karena aku pribadi dapat dua dana talangan dari uni maupun dari STIE Perbanas Surabaya.  Paling tidak, cukup buat memulai program dengan mantabs tanpa khawatir kelaparan di tempat jauh.

Thursday, August 4, 2011

Kelengkapan Sandwich

Disamping harus tetap mengerjakan disertasi, akhir-akhir ini aku juga disibukkan mengurus keberangkatan ke Aussie September mendatang, mulai ngurus visa, reservasi tiket, minta guarantee letter sampai dengan bikin surat permohonan utang dana talangan ke rektorat.  Barvo Universitas Brawijaya, yang dengan penuh pengertian dan kebijakan memberi kami pinjaman agar bisa membayar bench fee dan punya bekal hidup paling tidak sebulan.  Hal ini karena pengalaman, dana beasiswa turunnya telat.  Aku secara pribadi juga jaga-jaga cari pinjaman ke Perbanas.  Bravo juga STIE Perbanas Surabaya yang dengan penuh pengertian dan kebijakan juga sangat mendukung program ini sehingga selain dipinjami uang, ongkos persiapan seperti visa, administrasi dan sebagainya ditanggung perbanas.  Lak enak ta?
Mengenai repotnya ngurus kelengkapan ini, Wita koncoku menganalogkan, "Lha wong BLT yang seratus ribu saja ribet, apalagi yang seratus juta.  Ya sudah, kita jalani saja".  Tapi beasiswanya ga sampe seratus juta lho.
Untuk standar Aussie, living cost 1.750 per bulan, plus uang buku dan insurance.  Bench fee pasti ditanggung, tiket pesawat sudah disediakan.
Yang repot lagi adalah persiapan diri ke LN.  Macem-macem deh.  Harus menyediakan koper, jaket, sepatu yang enak, kunci TSA, komputer, eksternal HD, dll dll.  Belum lagi secara pribadi harus sehat, makanya, gigi harus dibenahi dulu karena akhir-akhir ini kok mulai nyeri.  Kamera pas habis jatuh jadi macet.  pokoknya banyak deh.  Mumet rasanya.  Tapi seneng aja karena membayangkan bisa belajar ke LN.  Ini kan my dream comes true.  Alhamdulillah