Disamping harus tetap mengerjakan disertasi, akhir-akhir ini aku juga disibukkan mengurus keberangkatan ke Aussie September mendatang, mulai ngurus visa, reservasi tiket, minta guarantee letter sampai dengan bikin surat permohonan utang dana talangan ke rektorat. Barvo Universitas Brawijaya, yang dengan penuh pengertian dan kebijakan memberi kami pinjaman agar bisa membayar bench fee dan punya bekal hidup paling tidak sebulan. Hal ini karena pengalaman, dana beasiswa turunnya telat. Aku secara pribadi juga jaga-jaga cari pinjaman ke Perbanas. Bravo juga STIE Perbanas Surabaya yang dengan penuh pengertian dan kebijakan juga sangat mendukung program ini sehingga selain dipinjami uang, ongkos persiapan seperti visa, administrasi dan sebagainya ditanggung perbanas. Lak enak ta?
Mengenai repotnya ngurus kelengkapan ini, Wita koncoku menganalogkan, "Lha wong BLT yang seratus ribu saja ribet, apalagi yang seratus juta. Ya sudah, kita jalani saja". Tapi beasiswanya ga sampe seratus juta lho.
Untuk standar Aussie, living cost 1.750 per bulan, plus uang buku dan insurance. Bench fee pasti ditanggung, tiket pesawat sudah disediakan.
Yang repot lagi adalah persiapan diri ke LN. Macem-macem deh. Harus menyediakan koper, jaket, sepatu yang enak, kunci TSA, komputer, eksternal HD, dll dll. Belum lagi secara pribadi harus sehat, makanya, gigi harus dibenahi dulu karena akhir-akhir ini kok mulai nyeri. Kamera pas habis jatuh jadi macet. pokoknya banyak deh. Mumet rasanya. Tapi seneng aja karena membayangkan bisa belajar ke LN. Ini kan my dream comes true. Alhamdulillah
No comments:
Post a Comment