Wednesday, June 15, 2011

Aku Lulus Wawancara Sandwich

Alhamdulillah, aku dan Bu Nanies dan Pak Semuel lulus wawancara beasiswa Sandwich.  Kita semua milih Australia. Tetapi karena saking banyaknya yang melamar ke University of Queensland, bu Nanies dan Pak Sem diarahkan ke Flinders.  Jadi deh mereka ke Adelaide, sementara aku tetap di Brisbane dengan Bu Utami insyaAllah semoga dia benar-benar ketrima karena sekarang statusnya cadangan.
Wah banyak hal yang kupelajari saat mengikuti wawancara.  Banyak hal lagi yang harus kupersiapkan untuk keberangkatan kami September nanti.  Inipun masih InsyaAllah, karena banyak hal yang mungkin bisa menghambat antara lain proses pengurusan dokumen di DIKTI, di SETNEG, di Konsulat dsb.dsb.  mudah-mudahan lancar.
Belajar ke Luar negeri meskipun  sebentar sudah jadi obsesi.  Sama dengan si Wita yang dari akuntansi, dia sudah melamar berkali-kali dan selalu gagal.  Ini yang ketiga.  Mungkin dua kali lagi dia dapat payung, he..he.. 

Pengumuman lengkap bisa diakses disini 

Saturday, May 7, 2011

Wawancara Sandwich Program

Hari ini, baru saja aku pulang menghadiri undangan wawancara Program Sandwich.  Peluangnya, fifty-fifty kayaknya.  Selain karena terjadi indikasi rombongan, juga karena secara pribadi aku gak yakin. 
Sebenarnya strategiku adalah berusaha tampil beda. Oleh karena itu, sambil nunggu panggilan wawancara, aku berusaha menghubungi beberapa Profesor dan Doktor di Univ yang kutuju dan Univ tetangganya (soalnya, ngotot pengen ke Brisbane..he...he...).  Alhamdulillah aku dapat respon yang menggembirakan dari dua profesor dari Univ yang kutuju, sedang dari tetangganya, gak blash.  Ok aku merasa sudah punya modal.  Dalam pikiranku, aku aman.  Cara ini ku share pada teman-teman. Ternyata tidak semua teman dapat tanggapan seperti aku.  Aku merasa beruntung.  Bukannya aku senang karena orang laen susah lho.  Aku merasa sudah memberitahu caraku yang kuanggap berhasil, ternyata waktu dicontoh orang, hasilnya beda.  Ya udah.  Anggap naseeb ajah.
Tetapi begitu menghadapi proses wawancara, aku sedikit hopeless.  Gimana enggak!!  Yah karena indikasi rombongan tadi, pewawancara tidak lagi tanya bagaimana mendapat LOA, tapi langsung tanya, apa yang akan kamu lakukan disana (dalam bahasa Inggris tentunya, dan maaf tidak bisa mengulangnya disini.  Ora iso...!!) Hasilnya bisa bermacam-mancam tapi secara garis besar dapat digolongkan menjadi tiga.
  1. Gak punya kontak yang jelas.  Beberapa teman sudah berusaha, tetapi tidak ada jawaban yang memberi harapan.  Pewawancara akan bilang " gak ada gunanya dapat beasiswa", nanti disana gak melakukan kegiatan sesuai dengan tujuan utama sandwich yaitu mensupport penyelesaian disertasi.
  2. Punya kontak menggembirakan, tapi kualifikasi tidak sesuai, misalnya 'hanya' seorang MBA (ini pengalaman kawan dekat) atau disiplin ilmunya tidak sama, maka pewawancara akan marah.  "anda kan S-3, jangan mau dong dibimbing orang S-2.  Padahal si S-2 tersebut memang bukan pembimbing tapi fasilitator.  Maka si pewawancara tambah meradang, berarti sama "Gak Jelas!! Tidak Layak!!" 
  3. Punya kontak yang jelas (kayak aku), wawancara kukira menggembirakan ternyata si pewawancara menilai " anda tahu kenapa dia mau merespon anda? Karena ia tahu ada uangnya!".  Lhah... repots.  
Intinya, proses kami sampai mendapat LOA rombongan itu salah.  Seharusnya.... Cari kontak, profesor atau doktor dulu... surat-suratan menyamakan persepsi... baru dapatkan LOA.
Meskipun demikian, usahaku agar berbeda dengan teman-teman diakui juga, soalnya selain aku memperoleh kontak yang menggembirakan, juga aku sudah browsing konferensi Internasipnal yang mungkin bisa kuikuti selama aku dinegara tujuan.  Yah mudah-mudahan ada gunanya.  Pengumumannya katanya sih Juni.  Mohooon doa restu.

Sunday, April 17, 2011

Ngelamar Sandwich Program

Ini jadi pengalaman buatku yang sejak dulu tertarik untuk belajar ke LN.  Dasar wong ndeso.  Kalau dilihat-lihat, pendidikan di Indonesia ini begitu njomplang ya.  Yang di Jakarta, pergi melancong, belajar ke LN seperti ke Bogor ajah.  Guampang banget.  Sementara yang di kota kecil, punya semangat dan kemampuan (agaknya) besar, tapi dana cupet, yo gak juga keturutan keinginan untuk belajar ke LN.  Padahal cita-citanya sama yaitu ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa, cie... kata Ais.
Ya itulah.  Begitu ada kesempatan mendaftar Sandwich, aku bersemangat empat lima mencoba mendaftar.  Yang namanya mendaftar tidak hanya sekedar datang dan menyetor nama, berkas yang harus dilengkapi itu boo buanyak banget.  Perlu banyak tanda tangan. Kata Wita temanku serasa menjadi fan's of everybody deh.  Ya Promotor, Dekan, Ketua Program Studi dan Koordinator Administrasi (ini empat orang, lho).  Belum lagi sebelum ditandatangani pejabat harus diparaf oleh pejabat yang di bawahnya.  Jadi untuk minta tanda tangan dekan, harus diparaf KPS.  Semua berlokasi di tempat yang kadang tidak berdekatan bahkan di gedung lain.  Nah, ini kalau ada yang kelupaan, harus balik lagi.  Pokoknya gempor.com deh.  
Tapi semua menyenangkan.  Wong namanya ada maunya, ya nggak? ya nggak?
Sekarang sudah pada tahap seleksi awal.  Dan yang bikin separuh hatiku pergi adalah ternyata yang mendaftar ke PT LN yang kutuju banyak sekali.  Padahal salah satu yang dipertimbangkan oleh pemberi dana adalah TIDAK ADA INDIKASI ROMBONGAN karena disinyalir klenceran.  Lah gimana gak dikatakan rombongan?  wong aku punya grup yang sejak awal mendaftar ada 5 orang  belum dari fakultas lain.  total 24 orang.  Cepe..deh..  
Ya sudah.  Nanti kalau di tes sama DIKTI harus bisa membuktikan bahwa bahwa kami berbeda tujuan.  kalaupun nanti berangkat dan ada acara pikniknya anggaplah ini sebagai selingan kecil.  Mohon Doa mudah-mudahan diterima

Wednesday, January 26, 2011

Belajar Berbisnis (lagi!!)

Sebenarnya aku ini orang yang gak bisa diam kalau ada kesempatan bisnis. Kalau diurut, sejak aku bisa cari uang sendiri, sangat banyak yang pernah kukerjakan. Dulu jaman SMA, aku sudah bisa menjahit dan menerima jahitan. Lumayan, dapat uang jajan. Lah wong aku dibelikan mesin jahit waktu aku kelas tiga esde.

Trus, waktu kuliah, ekonomi keluarga benar-benar ambruk. Aku ingat betul, hari pertama aku masuk perguruan tinggi, pembantu rumah tangga dipulangkan karena ibu sudah tidak sanggup membayar karena warung rawonnya sudah tutup. Sejak itu aku mencoba mencari tambahan uang saku dengan berbagai cara. Aku ingat, aku masih menerima jahitan, trus memberi les anak cina, masih juga menulis cerpen dengan mesin tik pinjaman. Ternyata ada juga yang bisa dimuat. Jaman dulu, cerpenku sempat masuk di Aneka (waktu itu belum Yes), di Gadis. Masih ingat betul, honornya Rp. 70.000. Wah, kaya benar aku. Tapi ya gitu, sebelum berhasil ada yang dimuat, banyak juga yang dikembalikan. Belum lagi berapa banyak kertas yang kuhabiskan karena salah ketik, wong tidak ada fasilitas del, edit, copy dan paste.
Aku juga pernah mencoba membuat baju dan dijual, bekerja sama dengan teman. Pokoknya, sejak muda sudah berpetualang mencari uang.
Begitu aku kerja dan punya modal, aku ikut beberapa bisnis MLM. Tupperware, TianShi, Amway sudah pernah kucoba. Tupperware aku suka karena barangnya lucu-lucu. Tianshi, aku merasa mudah sistemnya dan waktu aku masuk, tianshi masih baru jadi pasar masih luas. Amway, hah susah!!. Setelah itu aku vakum tidak berbisnis. Aku merasa, mungkin aku bukan orang yang tepat.
Sekarang aku mencoba lagi. Aku ikut Oriflame. Aku mau ikut karena pertama, aku sejak dulu suka dan cocok dengan lipstiknya. Kedua, sistemnya yang aku yakin bisa terus digunakan dan membantu perluasan jaringan selagi kita tidur. Pertimbangan utamaku adalah dengan sistem yang berbasis internet ini, pasarnya masih sangat luas. analisis potensi pasar inilah yang membuatku yakin bisnis ini masih bisa berkembang dan aku masih punya banyak kesempatan.
Mungkin yang jadi uplineku senang dapat downline sepertiku (he...he... nyombong nih), karena aku sangat positif terhadap bisnis mlm. Dia gak perlu ngerayu karena aku yang ngeklik dan mengajukan diri sebagai DL. Aku juga sadar-sesadarnya risiko bisnis dan apa yang harus kukorbankan. Nah, inilah bisnisnya



Dengan harapan bahwa lambat laun bisnisku ini bisa berkembang, maka aku memantapkan diri untuk gabung. Kalau yang semangat, empat atau lima tahun bisa jadi diamond, aku mungkin hanya berharap bahwa masa pensiunku nanti masih ada cashflow yang bisa menggantikan gajiku saat ini agar tidak bergantung pada anak atau orang lain.
Amien

Thursday, January 20, 2011

Mengurus Paspor Anak-Anak

Ini pengalaman, mudah-mudahan ada gunanya. Mengurus paspor anak di Imigrasi Surabaya (tepatnya di kantor imigrasi waru), caranya gini.
Anak yang belum punya KTP dianggap belum bisa tanda tangan sehingga semua pernyataan dilakukan oleh ortunya. Dengan demikian, waktu beli formulir, mintalah form pernyataan paspor anak-anak. Dari pada dua kali bikin pernyataan karena yang pertama salah, karena begitu beli form, ostosmastis diberi form dewasa. udah di isi, ditempel materei, ehh salah, rugi dong.
Berikutnya, ngisi form, sebaiknya tanya informasi. Tapi intinya, karena di form ada kotak-kotak yang harus diisi sementara anak-anak belum punya data itu, misalnya, nomor KTP dan masa berlak, maka yang diisi adalah no NIK yang ada di KSK, trus masa berlakunya adalah masa berlaku KTP ortu. Ok setelah itu, yah tanda tangani deh.
Hari pertama, masukin berkas, si anak gak perlu dibawa, ngrepoti. Jangan lupa bawa seluruh dokumen asli yaitu
  1. KSK
  2. Surat nikah
  3. KTP orang tua (kalau yang memasukkan hanya salah satu pihak, maka KTP pasangan cukup fotocopynya saja.
  4. akte kelahiran sang anak
  5. paspor ortu jika ada
dokumen tsb di fotocopy dengan ukuran A4. Ini penting. Soalnya aku salah ukuran, ya disuruh fotocopy ulang. Supaya selamat, fotocopy aja di koperasi imigrasi. pasti pas.
Hari ke dua, datang untuk bayar. Thank God, harga turun Rp. 255.000 per gundul. lumayan.
hari itu juga foto. Makanya anaknya harus diajak.
Terakhir setelah di foto, jangan lupa karena harus tanda tangan lagi (ortunya), maka si pengantar mestinya gak ganti, jangan, misalnya kemarin bapaknya yang masukin berkas, trus hari ini emboknya yang nganter foto. Menghindari timbul masalah!!
Nah, habis foto dan tanda tangan, tiga hari kerja, paspor sudah jadi.
Pengalaman lagi nih. Waktu ambil paspor jadi ini saja, aku ampe dua kali karena salah jam. Paspor bisa diambil mulai jam 13. sampe jam 16 ajah.

Thursday, January 13, 2011

Ujian Kualifikasi Dua

Kemarin jadi tanggal bersejarah buatku. Catat!! tanggal 12 Januari 2011, aku menjalani ujian kualifikasi ke dua atau nama lainnya sidang komisi pembimbing ke dua. Alhamdulillah, meskipun termasuk agak telat dibanding teman-teman sekelas. Surprise-nya adalah, teman-teman mengadakan pertemuan di kampus. Jadi seakan-akan suporter banyak. Habis ujian, kami makan-makan lagi. Bukan aku yang nraktir. Ini memang kebiasaan kami, urunan untuk keluar makan-makan sekelas. Btw, terimakasih banyak temans.
Surprise lagi, kami juga berhasil meminta berfoto dengan KPS, Prof Ubud Salim. Wah, ini kesempatan langka. Pokoknya hari kemarin istimewa sekali bagiku.
Hasil ujiannya sendiri sih, intinya, aku dibanting sama promotorku. proposalnya jelek, katanya.
yah... aku thenger-thenger, deh. Pengen rasanya segera pulang, ngadep komputer lagi, perbaiki lagi.
Aku mencoba berpikir positif. Gemblengan profesorku membuatku lebih kerja keras belajar. Go Doctor!!!