Thursday, August 4, 2011

Kelengkapan Sandwich

Disamping harus tetap mengerjakan disertasi, akhir-akhir ini aku juga disibukkan mengurus keberangkatan ke Aussie September mendatang, mulai ngurus visa, reservasi tiket, minta guarantee letter sampai dengan bikin surat permohonan utang dana talangan ke rektorat.  Barvo Universitas Brawijaya, yang dengan penuh pengertian dan kebijakan memberi kami pinjaman agar bisa membayar bench fee dan punya bekal hidup paling tidak sebulan.  Hal ini karena pengalaman, dana beasiswa turunnya telat.  Aku secara pribadi juga jaga-jaga cari pinjaman ke Perbanas.  Bravo juga STIE Perbanas Surabaya yang dengan penuh pengertian dan kebijakan juga sangat mendukung program ini sehingga selain dipinjami uang, ongkos persiapan seperti visa, administrasi dan sebagainya ditanggung perbanas.  Lak enak ta?
Mengenai repotnya ngurus kelengkapan ini, Wita koncoku menganalogkan, "Lha wong BLT yang seratus ribu saja ribet, apalagi yang seratus juta.  Ya sudah, kita jalani saja".  Tapi beasiswanya ga sampe seratus juta lho.
Untuk standar Aussie, living cost 1.750 per bulan, plus uang buku dan insurance.  Bench fee pasti ditanggung, tiket pesawat sudah disediakan.
Yang repot lagi adalah persiapan diri ke LN.  Macem-macem deh.  Harus menyediakan koper, jaket, sepatu yang enak, kunci TSA, komputer, eksternal HD, dll dll.  Belum lagi secara pribadi harus sehat, makanya, gigi harus dibenahi dulu karena akhir-akhir ini kok mulai nyeri.  Kamera pas habis jatuh jadi macet.  pokoknya banyak deh.  Mumet rasanya.  Tapi seneng aja karena membayangkan bisa belajar ke LN.  Ini kan my dream comes true.  Alhamdulillah

Saturday, July 16, 2011

Ikut Pembekalan Sandwich

Pembukaan : 
apa bahasa lainnya sandwich.
jwb : bredjembred = atas bread, tengah jam, bawah bread.  Baca seperti logat Madura.
Itu adalah pengetahuan yang kuperoleh dari pembekalan tadi.  Asyik kan?
memang asyik!.  Pembicaranya oke semua.  Kami diberi semacam tip&trik bagaimana pergi, dan hidup di luar negeri.  Karena seumur-umur belum pernah tinggal lama di LN (kecuali waktu haji), makanya sharing tadi berguna sekali. 
Seperti : 
  1. bagaimana mengurus dokumen resmi yang diperlukan
  2. bagaimana di bandara dan menangani transit berkali-kali,
  3. bagaimana ngobrol dengan orang asing
  4. bagaimana menangani dokumen dan bontotan kita sendiri, sampai-sampai koper, packing  toiletris juga diperagakan.  Intinya, jangan sampai memalukan negara deh.
  5. dsb..dsb
Alhamdulillah, berguna sekali.  Pertemuan tadi juga membuat kami yang nantinya menuju negara dan universitas yang sama juga bertemu dan membuat kesepakatan.

Tuesday, July 12, 2011

Proses Ujian Proposal Disertasi

Akhirnya datang juga!!
Ijin untuk ujian proposalku.  Sudah paling lambat dibanding teman-teman se kelas.  Tapi, aku tetap bersyukur telah melangkah one step ahead.  Nanti, insyaAllah tanggal 25 Juli 2011, aku ujian.  Pengujiku
  1. Prof. Muhammad Djakfar
  2. Prof. Djumilah Zain
  3. Dr. Solimun.
Kalau digagas-gagas, promotor maupun pengujiku orang luar UB.  Prof. Djakfar, orang UIN, Prof Thaher, promotor orang FIA, Pak Solimun, orang MIPA.  Jadilah kakiku kriting mengejar-ngejar beliou-beliou karena harus mengklopkan jadwal ujian.  Kemarin saja, aku harus jalan dari turun bemo JPK, ke gedung FE UIN mungkin sekitar 1 km lebih.  Awak wis tuwek.  Berkeringat juga.  Setelah urusan dengan Prof Djakfar beres, ke UB dari sisi kanan.  Jalan lagi sekitar 500 meter.  Asyiik.  Sehaat...
Sekarang aku tinggal memperbaiki quesioner dan mempersiapkan admisnistrasinya

Sunday, July 10, 2011

Belajar Behavioral Finance

Behavioral finance adalah pendekatan ilmu manajemen keuangan yang relatif baru meskipun sudah mulai muncul awal tahun 80-an.  digagas oleh ahli-ahli keuangan seperti Dreman, Shiller, DeBondt dan Thaler bersama dengan ahli-ahli psikologi termasuk Andressen, Kahneman dan Tversky.  Dari momen tersebut, kemudian area ini berkembang bahkan meluas ke bidang ilmu pemasaran, manajemen, ekperimental, game theory bahkan ilmu politik dan hukum (Bondt, et.al, 2008.
Ilmunya sangat menarik karena melibatkan ilmu psikologi.  tetapi kalau dilihat trend penelitian yang ada tetap terdapat dua kubu pendekatan.  Behavioral dengan tetap menggunakan data keuangan atau behavioral dengan data survey. 
Tertarik menelitinya?
Ada banyak jurnal yang bisa di replikasi

Sunday, July 3, 2011

Belajar Sabar

Senang sekali waktu bisa masuk sekolah lagi sementara umur sudah 44 tahun.  Sekarang sudah masuk tahap penulisan disertasi.  Kalau dipikir-pikir, kondisiku ini unik.  Kalau dibanding teman-teman sekelas, aku adalah orang ketiga dari bawah yang belum ujian proposal.  Jadi, dari 19 orang, sudah 16 orang yang ujian.  Yang benar-benar sehat tapi gak ujian-ujian adalah aku, karena dua teman yang lain memang kondisinya "pantas dimaklumi".  
Kalau aku? kenapa terlambat.  Satu: faktor pribadi.  Aku tidak akan cari kambing hitam.  sekali waktu memang aku malas.  Gak seperti teman-teman yang rajin-rajin.
Faktor kedua kalau dipikir adalah karena kesibukanku. Sebagian besar temanku benar-benar fokus kuliah.   Kalaupun ada kesibukan, mereka tetap di kota Malang.  Jadi, tidak ada kendala waktu perjalanan. Aku, selain kuliah, juga mengajar di Surabaya.  Jadi kalau mau ngurusi disertasi, ya harus ke Malang.  Naik bis pulang pergi butuh waktu 5 jam.  Kadang terasa sekali waktu habis dijalan.  Gak efisien.
Ketiga, faktor luck mengadapi dosen pembimbing.  Tidak perlu kusebut nama, tapi promotorku ini punya kebiasaan yang agak tidak menghargai atau berempati terhadap kebutuhan orang lain.  Tidak bisa ditelpon atau di sms, tidak mau menetapkan jadwal bimbingan yang bisa disepakati bersama.  Pokoknya, yang namanya mahasiswa harus memaklumi kesibukannya.  Kalau beliau sibuk, silakan nunggu sampai dirubung semut atau sampai tumbuh jamur.  Nunggu 4 sampai 6 jam sehari trus kemudian setelah ketemu ditolak karena beliau sudah cape, mau pulang sudah berkali-kali kami alami.  Kukatakan kami, karena yang bernasib seperti ini tidak hanya aku. 
Pokoknya S-3 itu artinya Sungguh Sangat Sabar. Go...Doctor

Wednesday, June 15, 2011

Aku Lulus Wawancara Sandwich

Alhamdulillah, aku dan Bu Nanies dan Pak Semuel lulus wawancara beasiswa Sandwich.  Kita semua milih Australia. Tetapi karena saking banyaknya yang melamar ke University of Queensland, bu Nanies dan Pak Sem diarahkan ke Flinders.  Jadi deh mereka ke Adelaide, sementara aku tetap di Brisbane dengan Bu Utami insyaAllah semoga dia benar-benar ketrima karena sekarang statusnya cadangan.
Wah banyak hal yang kupelajari saat mengikuti wawancara.  Banyak hal lagi yang harus kupersiapkan untuk keberangkatan kami September nanti.  Inipun masih InsyaAllah, karena banyak hal yang mungkin bisa menghambat antara lain proses pengurusan dokumen di DIKTI, di SETNEG, di Konsulat dsb.dsb.  mudah-mudahan lancar.
Belajar ke Luar negeri meskipun  sebentar sudah jadi obsesi.  Sama dengan si Wita yang dari akuntansi, dia sudah melamar berkali-kali dan selalu gagal.  Ini yang ketiga.  Mungkin dua kali lagi dia dapat payung, he..he.. 

Pengumuman lengkap bisa diakses disini 

Saturday, May 7, 2011

Wawancara Sandwich Program

Hari ini, baru saja aku pulang menghadiri undangan wawancara Program Sandwich.  Peluangnya, fifty-fifty kayaknya.  Selain karena terjadi indikasi rombongan, juga karena secara pribadi aku gak yakin. 
Sebenarnya strategiku adalah berusaha tampil beda. Oleh karena itu, sambil nunggu panggilan wawancara, aku berusaha menghubungi beberapa Profesor dan Doktor di Univ yang kutuju dan Univ tetangganya (soalnya, ngotot pengen ke Brisbane..he...he...).  Alhamdulillah aku dapat respon yang menggembirakan dari dua profesor dari Univ yang kutuju, sedang dari tetangganya, gak blash.  Ok aku merasa sudah punya modal.  Dalam pikiranku, aku aman.  Cara ini ku share pada teman-teman. Ternyata tidak semua teman dapat tanggapan seperti aku.  Aku merasa beruntung.  Bukannya aku senang karena orang laen susah lho.  Aku merasa sudah memberitahu caraku yang kuanggap berhasil, ternyata waktu dicontoh orang, hasilnya beda.  Ya udah.  Anggap naseeb ajah.
Tetapi begitu menghadapi proses wawancara, aku sedikit hopeless.  Gimana enggak!!  Yah karena indikasi rombongan tadi, pewawancara tidak lagi tanya bagaimana mendapat LOA, tapi langsung tanya, apa yang akan kamu lakukan disana (dalam bahasa Inggris tentunya, dan maaf tidak bisa mengulangnya disini.  Ora iso...!!) Hasilnya bisa bermacam-mancam tapi secara garis besar dapat digolongkan menjadi tiga.
  1. Gak punya kontak yang jelas.  Beberapa teman sudah berusaha, tetapi tidak ada jawaban yang memberi harapan.  Pewawancara akan bilang " gak ada gunanya dapat beasiswa", nanti disana gak melakukan kegiatan sesuai dengan tujuan utama sandwich yaitu mensupport penyelesaian disertasi.
  2. Punya kontak menggembirakan, tapi kualifikasi tidak sesuai, misalnya 'hanya' seorang MBA (ini pengalaman kawan dekat) atau disiplin ilmunya tidak sama, maka pewawancara akan marah.  "anda kan S-3, jangan mau dong dibimbing orang S-2.  Padahal si S-2 tersebut memang bukan pembimbing tapi fasilitator.  Maka si pewawancara tambah meradang, berarti sama "Gak Jelas!! Tidak Layak!!" 
  3. Punya kontak yang jelas (kayak aku), wawancara kukira menggembirakan ternyata si pewawancara menilai " anda tahu kenapa dia mau merespon anda? Karena ia tahu ada uangnya!".  Lhah... repots.  
Intinya, proses kami sampai mendapat LOA rombongan itu salah.  Seharusnya.... Cari kontak, profesor atau doktor dulu... surat-suratan menyamakan persepsi... baru dapatkan LOA.
Meskipun demikian, usahaku agar berbeda dengan teman-teman diakui juga, soalnya selain aku memperoleh kontak yang menggembirakan, juga aku sudah browsing konferensi Internasipnal yang mungkin bisa kuikuti selama aku dinegara tujuan.  Yah mudah-mudahan ada gunanya.  Pengumumannya katanya sih Juni.  Mohooon doa restu.