Tanpa banyak kata, ini akan menjadi kenanganku sekian tahun mendatang. Ku upload foto kegiatan agar mengingatkanku pada pengalaman manis di University of Queensland Brisbane
Friday, November 18, 2011
Thursday, September 29, 2011
Adult Learning
Sekian hari tidak posting laporan. Perjalanan menikmati suasana baru, sekolah baru selalu menyenangkan. Setelah sekian lama terobsesi untuk bisa sekolah ke LN, rasanya, the dream comes true. So Excited. Setiap perjalanan meskipun menggemporkan kaki dinikmati betul.
Sejak dari Bandara Juanda, ke Jakarta, ke kantor DIKTI yang jaraknya hampir sejam dari Sukarno Hatta semua pasti minta tambah jalan kaki. Ini gambar kehebohan kami saat lapor di DIKTI
Setelah selesei urusan dengan DIKTI, Bu Nanis minta antar beli kamera. Kesimpulannya, barang elektronik memang di Jakarta lebih murah dibanding di Surabaya. Ya sudah lah rejekinya bu Nanis. Gimana enggak, kamera merk sama, dengan tipe yang lebih tinggi harganya lebih murah. Perjalanan dilanjut ke Metro, ha..ha dasar IRT (ibu rumah tangga). Mall tidak pernah lepas dari ingatan. Nih gambarnya
Lho, ini mau sandwich apa mau shopping? Lihat tuh kreseknya guedhe...
Labels:
adult learning,
sandwich like program 2011,
UQ
Tuesday, August 30, 2011
H-14
Gak hanya Iedul Fitri aja yang menggunakan istilah H-. Keberangkatanku juga ku hitung. Efektif 14 hari lagi aku berangkat. Agak deg-degan, agak berat mikir akan meninggalkan anak-anak tapi juga excited karena akan merasakan pengalaman baru. ih norak ya!!!
Btw, ini memang sedang Iedul Fitri. Pas. Tadi pagi Ais dan Ayahnya Sholat Fitri. Aku tidak karena memang masih M, sementara itu Idho, ikut Iedul Fitri besok, karena ia memilih tinggal di rumah Bude. Gpp. Perbedaan bikin meriah. Hari ini, menurut Muhammadiyah sudah 1 Syawal, sementara pemerintah baru menetapkan besok. Jadinya, Iedul Fitri kami sepi deh. Siang-siang begini kami masih santai, internetan. Males masak juga, gak tahu nih mau makan apa nanti.
Ngomong-ngomong soal makanan, buat persiapan ke Aussie aku sudah siapkan super bubur, bumbu rawon, bumbu nasi kuning, bumbu rendang, masing-masing cuma satu. Buat cadangan dan tombo pengen aja barang kali sewaktu-waktu kangen. Karena katanya aturan membawa cairan adalah max 100 mm, kemarin aku beli sampoo, sabun cair, semua kemasan kecil aja. Bukan karena takut bawa yang besar tapi karena yang kecil aja menurutku cukup, karena aku jarang mandi..he...he...
Sampai sejauh ini, visa sudah terbit, tiket internasional sudah issued. Alhamdulillah.
Yang harus kulakukan setelah hari raya ini adalah,
- pamitan kepada semua profesor promotor
- Ambil SPPD di mbak Yani dan Paspor di Mbak Lely (thanks alot to both of them)
- Perbaharui SIM (Waduh ini harus, udah terlambat, kemarin waktu mau memperbaharui ternyata bahan bakunya habis katanya)
Friday, August 12, 2011
Siap-siap ke Aussie untuk Program Sandwich
Alhamdulillah, aku dan tiga teman sekelas mendapat beasiswa program sandwich like ke Aussie. Sayangnya kami tidak satu kota. Terpaksa kami pisahan. Meskipun demikian, dalam reservasi tiket, kami ngeyel agar dapat satu pesawat untuk masuk ke Aussie lewat Sydney. Baru disitu kami akan berpisah menuju kota tujuan masing-masing.
Kalau ditanya, apa persiapannya??? Wuah... banyak. Baik persiapan administrasi berkaitan dengan penerimaan beasiswa itu sendiri, maupun persiapan berkaitan dengan apa yang akan dibawa dan yang lebih penting adalah persiapan mental dan kemampuan diri sendiri dalam menghadapi kehidupan baru di LN.
Sampai saat ini, kami sudah mengurus visa, meskipun belum selesai, mengurus reservasi tiket, cari penginapan, cari asuransi dan mengajukan permohonan dana talangan.
Dana talangan ini penting karena ditakutkan dana dari DIKTI terlambat turun, sementara kami harus segera berangkat. Ini dialami oleh peserta sandwich tahun lalu. Beruntung Universitas Brawijaya bersedia memberi dana talangan.
Kami juga bersyukur, ternyata uni kami sangat bijak karena bersedia memberi talangan. Kami dapat info dari uni lain (yang tidak perlu disebut namanya) tidak bersedia memberi talangan. Katanya, kalau mau pergi ke Aussie dengan beasiswa sandwich ya harus menggunakan dana sendiri dulu, kalau perlu jual kambing.
Hah... untuk memulai program ini, selain persiapan biaya hidup kira-kira satu bulan, kita juga harus bayar bench fee sekitar AUD 4,000. Kalau harus jual kambing ya harus kambing sekandang atau sekandangnya, baru bisa bayar.
Sekali lagi Alhamdulillah, kami dapat dana talangan. Double alhamdulillah karena aku pribadi dapat dua dana talangan dari uni maupun dari STIE Perbanas Surabaya. Paling tidak, cukup buat memulai program dengan mantabs tanpa khawatir kelaparan di tempat jauh.
Kami juga bersyukur, ternyata uni kami sangat bijak karena bersedia memberi talangan. Kami dapat info dari uni lain (yang tidak perlu disebut namanya) tidak bersedia memberi talangan. Katanya, kalau mau pergi ke Aussie dengan beasiswa sandwich ya harus menggunakan dana sendiri dulu, kalau perlu jual kambing.
Hah... untuk memulai program ini, selain persiapan biaya hidup kira-kira satu bulan, kita juga harus bayar bench fee sekitar AUD 4,000. Kalau harus jual kambing ya harus kambing sekandang atau sekandangnya, baru bisa bayar.
Sekali lagi Alhamdulillah, kami dapat dana talangan. Double alhamdulillah karena aku pribadi dapat dua dana talangan dari uni maupun dari STIE Perbanas Surabaya. Paling tidak, cukup buat memulai program dengan mantabs tanpa khawatir kelaparan di tempat jauh.
Labels:
dana talangan,
sandwich,
Universitas Brawijaya
Thursday, August 4, 2011
Kelengkapan Sandwich
Disamping harus tetap mengerjakan disertasi, akhir-akhir ini aku juga disibukkan mengurus keberangkatan ke Aussie September mendatang, mulai ngurus visa, reservasi tiket, minta guarantee letter sampai dengan bikin surat permohonan utang dana talangan ke rektorat. Barvo Universitas Brawijaya, yang dengan penuh pengertian dan kebijakan memberi kami pinjaman agar bisa membayar bench fee dan punya bekal hidup paling tidak sebulan. Hal ini karena pengalaman, dana beasiswa turunnya telat. Aku secara pribadi juga jaga-jaga cari pinjaman ke Perbanas. Bravo juga STIE Perbanas Surabaya yang dengan penuh pengertian dan kebijakan juga sangat mendukung program ini sehingga selain dipinjami uang, ongkos persiapan seperti visa, administrasi dan sebagainya ditanggung perbanas. Lak enak ta?
Mengenai repotnya ngurus kelengkapan ini, Wita koncoku menganalogkan, "Lha wong BLT yang seratus ribu saja ribet, apalagi yang seratus juta. Ya sudah, kita jalani saja". Tapi beasiswanya ga sampe seratus juta lho.
Untuk standar Aussie, living cost 1.750 per bulan, plus uang buku dan insurance. Bench fee pasti ditanggung, tiket pesawat sudah disediakan.
Yang repot lagi adalah persiapan diri ke LN. Macem-macem deh. Harus menyediakan koper, jaket, sepatu yang enak, kunci TSA, komputer, eksternal HD, dll dll. Belum lagi secara pribadi harus sehat, makanya, gigi harus dibenahi dulu karena akhir-akhir ini kok mulai nyeri. Kamera pas habis jatuh jadi macet. pokoknya banyak deh. Mumet rasanya. Tapi seneng aja karena membayangkan bisa belajar ke LN. Ini kan my dream comes true. Alhamdulillah
Mengenai repotnya ngurus kelengkapan ini, Wita koncoku menganalogkan, "Lha wong BLT yang seratus ribu saja ribet, apalagi yang seratus juta. Ya sudah, kita jalani saja". Tapi beasiswanya ga sampe seratus juta lho.
Untuk standar Aussie, living cost 1.750 per bulan, plus uang buku dan insurance. Bench fee pasti ditanggung, tiket pesawat sudah disediakan.
Yang repot lagi adalah persiapan diri ke LN. Macem-macem deh. Harus menyediakan koper, jaket, sepatu yang enak, kunci TSA, komputer, eksternal HD, dll dll. Belum lagi secara pribadi harus sehat, makanya, gigi harus dibenahi dulu karena akhir-akhir ini kok mulai nyeri. Kamera pas habis jatuh jadi macet. pokoknya banyak deh. Mumet rasanya. Tapi seneng aja karena membayangkan bisa belajar ke LN. Ini kan my dream comes true. Alhamdulillah
Saturday, July 16, 2011
Ikut Pembekalan Sandwich
Pembukaan :
apa bahasa lainnya sandwich.
jwb : bredjembred = atas bread, tengah jam, bawah bread. Baca seperti logat Madura.
Itu adalah pengetahuan yang kuperoleh dari pembekalan tadi. Asyik kan?
apa bahasa lainnya sandwich.
jwb : bredjembred = atas bread, tengah jam, bawah bread. Baca seperti logat Madura.
Itu adalah pengetahuan yang kuperoleh dari pembekalan tadi. Asyik kan?
memang asyik!. Pembicaranya oke semua. Kami diberi semacam tip&trik bagaimana pergi, dan hidup di luar negeri. Karena seumur-umur belum pernah tinggal lama di LN (kecuali waktu haji), makanya sharing tadi berguna sekali.
Seperti :
- bagaimana mengurus dokumen resmi yang diperlukan
- bagaimana di bandara dan menangani transit berkali-kali,
- bagaimana ngobrol dengan orang asing
- bagaimana menangani dokumen dan bontotan kita sendiri, sampai-sampai koper, packing toiletris juga diperagakan. Intinya, jangan sampai memalukan negara deh.
- dsb..dsb
Alhamdulillah, berguna sekali. Pertemuan tadi juga membuat kami yang nantinya menuju negara dan universitas yang sama juga bertemu dan membuat kesepakatan.
Tuesday, July 12, 2011
Proses Ujian Proposal Disertasi
Akhirnya datang juga!!
Ijin untuk ujian proposalku. Sudah paling lambat dibanding teman-teman se kelas. Tapi, aku tetap bersyukur telah melangkah one step ahead. Nanti, insyaAllah tanggal 25 Juli 2011, aku ujian. Pengujiku
- Prof. Muhammad Djakfar
- Prof. Djumilah Zain
- Dr. Solimun.
Kalau digagas-gagas, promotor maupun pengujiku orang luar UB. Prof. Djakfar, orang UIN, Prof Thaher, promotor orang FIA, Pak Solimun, orang MIPA. Jadilah kakiku kriting mengejar-ngejar beliou-beliou karena harus mengklopkan jadwal ujian. Kemarin saja, aku harus jalan dari turun bemo JPK, ke gedung FE UIN mungkin sekitar 1 km lebih. Awak wis tuwek. Berkeringat juga. Setelah urusan dengan Prof Djakfar beres, ke UB dari sisi kanan. Jalan lagi sekitar 500 meter. Asyiik. Sehaat...
Sekarang aku tinggal memperbaiki quesioner dan mempersiapkan admisnistrasinya
Sunday, July 10, 2011
Belajar Behavioral Finance
Behavioral finance adalah pendekatan ilmu manajemen keuangan yang relatif baru meskipun sudah mulai muncul awal tahun 80-an. digagas oleh ahli-ahli keuangan seperti Dreman, Shiller, DeBondt dan Thaler bersama dengan ahli-ahli psikologi termasuk Andressen, Kahneman dan Tversky. Dari momen tersebut, kemudian area ini berkembang bahkan meluas ke bidang ilmu pemasaran, manajemen, ekperimental, game theory bahkan ilmu politik dan hukum (Bondt, et.al, 2008.
Ilmunya sangat menarik karena melibatkan ilmu psikologi. tetapi kalau dilihat trend penelitian yang ada tetap terdapat dua kubu pendekatan. Behavioral dengan tetap menggunakan data keuangan atau behavioral dengan data survey.
Tertarik menelitinya?
Ada banyak jurnal yang bisa di replikasi
Labels:
behavioral finance,
keuangan keperilakuan
Sunday, July 3, 2011
Belajar Sabar
Senang sekali waktu bisa masuk sekolah lagi sementara umur sudah 44 tahun. Sekarang sudah masuk tahap penulisan disertasi. Kalau dipikir-pikir, kondisiku ini unik. Kalau dibanding teman-teman sekelas, aku adalah orang ketiga dari bawah yang belum ujian proposal. Jadi, dari 19 orang, sudah 16 orang yang ujian. Yang benar-benar sehat tapi gak ujian-ujian adalah aku, karena dua teman yang lain memang kondisinya "pantas dimaklumi".
Kalau aku? kenapa terlambat. Satu: faktor pribadi. Aku tidak akan cari kambing hitam. sekali waktu memang aku malas. Gak seperti teman-teman yang rajin-rajin.
Faktor kedua kalau dipikir adalah karena kesibukanku. Sebagian besar temanku benar-benar fokus kuliah. Kalaupun ada kesibukan, mereka tetap di kota Malang. Jadi, tidak ada kendala waktu perjalanan. Aku, selain kuliah, juga mengajar di Surabaya. Jadi kalau mau ngurusi disertasi, ya harus ke Malang. Naik bis pulang pergi butuh waktu 5 jam. Kadang terasa sekali waktu habis dijalan. Gak efisien.
Ketiga, faktor luck mengadapi dosen pembimbing. Tidak perlu kusebut nama, tapi promotorku ini punya kebiasaan yang agak tidak menghargai atau berempati terhadap kebutuhan orang lain. Tidak bisa ditelpon atau di sms, tidak mau menetapkan jadwal bimbingan yang bisa disepakati bersama. Pokoknya, yang namanya mahasiswa harus memaklumi kesibukannya. Kalau beliau sibuk, silakan nunggu sampai dirubung semut atau sampai tumbuh jamur. Nunggu 4 sampai 6 jam sehari trus kemudian setelah ketemu ditolak karena beliau sudah cape, mau pulang sudah berkali-kali kami alami. Kukatakan kami, karena yang bernasib seperti ini tidak hanya aku.
Pokoknya S-3 itu artinya Sungguh Sangat Sabar. Go...Doctor
Pokoknya S-3 itu artinya Sungguh Sangat Sabar. Go...Doctor
Wednesday, June 15, 2011
Aku Lulus Wawancara Sandwich
Alhamdulillah, aku dan Bu Nanies dan Pak Semuel lulus wawancara beasiswa Sandwich. Kita semua milih Australia. Tetapi karena saking banyaknya yang melamar ke University of Queensland, bu Nanies dan Pak Sem diarahkan ke Flinders. Jadi deh mereka ke Adelaide, sementara aku tetap di Brisbane dengan Bu Utami insyaAllah semoga dia benar-benar ketrima karena sekarang statusnya cadangan.
Wah banyak hal yang kupelajari saat mengikuti wawancara. Banyak hal lagi yang harus kupersiapkan untuk keberangkatan kami September nanti. Inipun masih InsyaAllah, karena banyak hal yang mungkin bisa menghambat antara lain proses pengurusan dokumen di DIKTI, di SETNEG, di Konsulat dsb.dsb. mudah-mudahan lancar.
Belajar ke Luar negeri meskipun sebentar sudah jadi obsesi. Sama dengan si Wita yang dari akuntansi, dia sudah melamar berkali-kali dan selalu gagal. Ini yang ketiga. Mungkin dua kali lagi dia dapat payung, he..he..
Pengumuman lengkap bisa diakses disini
Saturday, May 7, 2011
Wawancara Sandwich Program
Hari ini, baru saja aku pulang menghadiri undangan wawancara Program Sandwich. Peluangnya, fifty-fifty kayaknya. Selain karena terjadi indikasi rombongan, juga karena secara pribadi aku gak yakin.
Sebenarnya strategiku adalah berusaha tampil beda. Oleh karena itu, sambil nunggu panggilan wawancara, aku berusaha menghubungi beberapa Profesor dan Doktor di Univ yang kutuju dan Univ tetangganya (soalnya, ngotot pengen ke Brisbane..he...he...). Alhamdulillah aku dapat respon yang menggembirakan dari dua profesor dari Univ yang kutuju, sedang dari tetangganya, gak blash. Ok aku merasa sudah punya modal. Dalam pikiranku, aku aman. Cara ini ku share pada teman-teman. Ternyata tidak semua teman dapat tanggapan seperti aku. Aku merasa beruntung. Bukannya aku senang karena orang laen susah lho. Aku merasa sudah memberitahu caraku yang kuanggap berhasil, ternyata waktu dicontoh orang, hasilnya beda. Ya udah. Anggap naseeb ajah.
Tetapi begitu menghadapi proses wawancara, aku sedikit hopeless. Gimana enggak!! Yah karena indikasi rombongan tadi, pewawancara tidak lagi tanya bagaimana mendapat LOA, tapi langsung tanya, apa yang akan kamu lakukan disana (dalam bahasa Inggris tentunya, dan maaf tidak bisa mengulangnya disini. Ora iso...!!) Hasilnya bisa bermacam-mancam tapi secara garis besar dapat digolongkan menjadi tiga.
- Gak punya kontak yang jelas. Beberapa teman sudah berusaha, tetapi tidak ada jawaban yang memberi harapan. Pewawancara akan bilang " gak ada gunanya dapat beasiswa", nanti disana gak melakukan kegiatan sesuai dengan tujuan utama sandwich yaitu mensupport penyelesaian disertasi.
- Punya kontak menggembirakan, tapi kualifikasi tidak sesuai, misalnya 'hanya' seorang MBA (ini pengalaman kawan dekat) atau disiplin ilmunya tidak sama, maka pewawancara akan marah. "anda kan S-3, jangan mau dong dibimbing orang S-2. Padahal si S-2 tersebut memang bukan pembimbing tapi fasilitator. Maka si pewawancara tambah meradang, berarti sama "Gak Jelas!! Tidak Layak!!"
- Punya kontak yang jelas (kayak aku), wawancara kukira menggembirakan ternyata si pewawancara menilai " anda tahu kenapa dia mau merespon anda? Karena ia tahu ada uangnya!". Lhah... repots.
Meskipun demikian, usahaku agar berbeda dengan teman-teman diakui juga, soalnya selain aku memperoleh kontak yang menggembirakan, juga aku sudah browsing konferensi Internasipnal yang mungkin bisa kuikuti selama aku dinegara tujuan. Yah mudah-mudahan ada gunanya. Pengumumannya katanya sih Juni. Mohooon doa restu.
Sunday, April 17, 2011
Ngelamar Sandwich Program
Ini jadi pengalaman buatku yang sejak dulu tertarik untuk belajar ke LN. Dasar wong ndeso. Kalau dilihat-lihat, pendidikan di Indonesia ini begitu njomplang ya. Yang di Jakarta, pergi melancong, belajar ke LN seperti ke Bogor ajah. Guampang banget. Sementara yang di kota kecil, punya semangat dan kemampuan (agaknya) besar, tapi dana cupet, yo gak juga keturutan keinginan untuk belajar ke LN. Padahal cita-citanya sama yaitu ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa, cie... kata Ais.
Ya itulah. Begitu ada kesempatan mendaftar Sandwich, aku bersemangat empat lima mencoba mendaftar. Yang namanya mendaftar tidak hanya sekedar datang dan menyetor nama, berkas yang harus dilengkapi itu boo buanyak banget. Perlu banyak tanda tangan. Kata Wita temanku serasa menjadi fan's of everybody deh. Ya Promotor, Dekan, Ketua Program Studi dan Koordinator Administrasi (ini empat orang, lho). Belum lagi sebelum ditandatangani pejabat harus diparaf oleh pejabat yang di bawahnya. Jadi untuk minta tanda tangan dekan, harus diparaf KPS. Semua berlokasi di tempat yang kadang tidak berdekatan bahkan di gedung lain. Nah, ini kalau ada yang kelupaan, harus balik lagi. Pokoknya gempor.com deh.
Tapi semua menyenangkan. Wong namanya ada maunya, ya nggak? ya nggak?
Sekarang sudah pada tahap seleksi awal. Dan yang bikin separuh hatiku pergi adalah ternyata yang mendaftar ke PT LN yang kutuju banyak sekali. Padahal salah satu yang dipertimbangkan oleh pemberi dana adalah TIDAK ADA INDIKASI ROMBONGAN karena disinyalir klenceran. Lah gimana gak dikatakan rombongan? wong aku punya grup yang sejak awal mendaftar ada 5 orang belum dari fakultas lain. total 24 orang. Cepe..deh..
Ya sudah. Nanti kalau di tes sama DIKTI harus bisa membuktikan bahwa bahwa kami berbeda tujuan. kalaupun nanti berangkat dan ada acara pikniknya anggaplah ini sebagai selingan kecil. Mohon Doa mudah-mudahan diterima
Wednesday, January 26, 2011
Belajar Berbisnis (lagi!!)
Sebenarnya aku ini orang yang gak bisa diam kalau ada kesempatan bisnis. Kalau diurut, sejak aku bisa cari uang sendiri, sangat banyak yang pernah kukerjakan. Dulu jaman SMA, aku sudah bisa menjahit dan menerima jahitan. Lumayan, dapat uang jajan. Lah wong aku dibelikan mesin jahit waktu aku kelas tiga esde.
Trus, waktu kuliah, ekonomi keluarga benar-benar ambruk. Aku ingat betul, hari pertama aku masuk perguruan tinggi, pembantu rumah tangga dipulangkan karena ibu sudah tidak sanggup membayar karena warung rawonnya sudah tutup. Sejak itu aku mencoba mencari tambahan uang saku dengan berbagai cara. Aku ingat, aku masih menerima jahitan, trus memberi les anak cina, masih juga menulis cerpen dengan mesin tik pinjaman. Ternyata ada juga yang bisa dimuat. Jaman dulu, cerpenku sempat masuk di Aneka (waktu itu belum Yes), di Gadis. Masih ingat betul, honornya Rp. 70.000. Wah, kaya benar aku. Tapi ya gitu, sebelum berhasil ada yang dimuat, banyak juga yang dikembalikan. Belum lagi berapa banyak kertas yang kuhabiskan karena salah ketik, wong tidak ada fasilitas del, edit, copy dan paste.
Aku juga pernah mencoba membuat baju dan dijual, bekerja sama dengan teman. Pokoknya, sejak muda sudah berpetualang mencari uang.
Begitu aku kerja dan punya modal, aku ikut beberapa bisnis MLM. Tupperware, TianShi, Amway sudah pernah kucoba. Tupperware aku suka karena barangnya lucu-lucu. Tianshi, aku merasa mudah sistemnya dan waktu aku masuk, tianshi masih baru jadi pasar masih luas. Amway, hah susah!!. Setelah itu aku vakum tidak berbisnis. Aku merasa, mungkin aku bukan orang yang tepat.
Sekarang aku mencoba lagi. Aku ikut Oriflame. Aku mau ikut karena pertama, aku sejak dulu suka dan cocok dengan lipstiknya. Kedua, sistemnya yang aku yakin bisa terus digunakan dan membantu perluasan jaringan selagi kita tidur. Pertimbangan utamaku adalah dengan sistem yang berbasis internet ini, pasarnya masih sangat luas. analisis potensi pasar inilah yang membuatku yakin bisnis ini masih bisa berkembang dan aku masih punya banyak kesempatan.
Mungkin yang jadi uplineku senang dapat downline sepertiku (he...he... nyombong nih), karena aku sangat positif terhadap bisnis mlm. Dia gak perlu ngerayu karena aku yang ngeklik dan mengajukan diri sebagai DL. Aku juga sadar-sesadarnya risiko bisnis dan apa yang harus kukorbankan. Nah, inilah bisnisnya
Dengan harapan bahwa lambat laun bisnisku ini bisa berkembang, maka aku memantapkan diri untuk gabung. Kalau yang semangat, empat atau lima tahun bisa jadi diamond, aku mungkin hanya berharap bahwa masa pensiunku nanti masih ada cashflow yang bisa menggantikan gajiku saat ini agar tidak bergantung pada anak atau orang lain.
Amien
Trus, waktu kuliah, ekonomi keluarga benar-benar ambruk. Aku ingat betul, hari pertama aku masuk perguruan tinggi, pembantu rumah tangga dipulangkan karena ibu sudah tidak sanggup membayar karena warung rawonnya sudah tutup. Sejak itu aku mencoba mencari tambahan uang saku dengan berbagai cara. Aku ingat, aku masih menerima jahitan, trus memberi les anak cina, masih juga menulis cerpen dengan mesin tik pinjaman. Ternyata ada juga yang bisa dimuat. Jaman dulu, cerpenku sempat masuk di Aneka (waktu itu belum Yes), di Gadis. Masih ingat betul, honornya Rp. 70.000. Wah, kaya benar aku. Tapi ya gitu, sebelum berhasil ada yang dimuat, banyak juga yang dikembalikan. Belum lagi berapa banyak kertas yang kuhabiskan karena salah ketik, wong tidak ada fasilitas del, edit, copy dan paste.
Aku juga pernah mencoba membuat baju dan dijual, bekerja sama dengan teman. Pokoknya, sejak muda sudah berpetualang mencari uang.
Begitu aku kerja dan punya modal, aku ikut beberapa bisnis MLM. Tupperware, TianShi, Amway sudah pernah kucoba. Tupperware aku suka karena barangnya lucu-lucu. Tianshi, aku merasa mudah sistemnya dan waktu aku masuk, tianshi masih baru jadi pasar masih luas. Amway, hah susah!!. Setelah itu aku vakum tidak berbisnis. Aku merasa, mungkin aku bukan orang yang tepat.
Sekarang aku mencoba lagi. Aku ikut Oriflame. Aku mau ikut karena pertama, aku sejak dulu suka dan cocok dengan lipstiknya. Kedua, sistemnya yang aku yakin bisa terus digunakan dan membantu perluasan jaringan selagi kita tidur. Pertimbangan utamaku adalah dengan sistem yang berbasis internet ini, pasarnya masih sangat luas. analisis potensi pasar inilah yang membuatku yakin bisnis ini masih bisa berkembang dan aku masih punya banyak kesempatan.
Mungkin yang jadi uplineku senang dapat downline sepertiku (he...he... nyombong nih), karena aku sangat positif terhadap bisnis mlm. Dia gak perlu ngerayu karena aku yang ngeklik dan mengajukan diri sebagai DL. Aku juga sadar-sesadarnya risiko bisnis dan apa yang harus kukorbankan. Nah, inilah bisnisnya
Dengan harapan bahwa lambat laun bisnisku ini bisa berkembang, maka aku memantapkan diri untuk gabung. Kalau yang semangat, empat atau lima tahun bisa jadi diamond, aku mungkin hanya berharap bahwa masa pensiunku nanti masih ada cashflow yang bisa menggantikan gajiku saat ini agar tidak bergantung pada anak atau orang lain.
Amien
Labels:
analisis potensi pasar,
bisnis,
mlm,
oriflame
Thursday, January 20, 2011
Mengurus Paspor Anak-Anak
Ini pengalaman, mudah-mudahan ada gunanya. Mengurus paspor anak di Imigrasi Surabaya (tepatnya di kantor imigrasi waru), caranya gini.
Anak yang belum punya KTP dianggap belum bisa tanda tangan sehingga semua pernyataan dilakukan oleh ortunya. Dengan demikian, waktu beli formulir, mintalah form pernyataan paspor anak-anak. Dari pada dua kali bikin pernyataan karena yang pertama salah, karena begitu beli form, ostosmastis diberi form dewasa. udah di isi, ditempel materei, ehh salah, rugi dong.
Berikutnya, ngisi form, sebaiknya tanya informasi. Tapi intinya, karena di form ada kotak-kotak yang harus diisi sementara anak-anak belum punya data itu, misalnya, nomor KTP dan masa berlak, maka yang diisi adalah no NIK yang ada di KSK, trus masa berlakunya adalah masa berlaku KTP ortu. Ok setelah itu, yah tanda tangani deh.
Hari pertama, masukin berkas, si anak gak perlu dibawa, ngrepoti. Jangan lupa bawa seluruh dokumen asli yaitu
Hari ke dua, datang untuk bayar. Thank God, harga turun Rp. 255.000 per gundul. lumayan.
hari itu juga foto. Makanya anaknya harus diajak.
Terakhir setelah di foto, jangan lupa karena harus tanda tangan lagi (ortunya), maka si pengantar mestinya gak ganti, jangan, misalnya kemarin bapaknya yang masukin berkas, trus hari ini emboknya yang nganter foto. Menghindari timbul masalah!!
Nah, habis foto dan tanda tangan, tiga hari kerja, paspor sudah jadi.
Pengalaman lagi nih. Waktu ambil paspor jadi ini saja, aku ampe dua kali karena salah jam. Paspor bisa diambil mulai jam 13. sampe jam 16 ajah.
Berikutnya, ngisi form, sebaiknya tanya informasi. Tapi intinya, karena di form ada kotak-kotak yang harus diisi sementara anak-anak belum punya data itu, misalnya, nomor KTP dan masa berlak, maka yang diisi adalah no NIK yang ada di KSK, trus masa berlakunya adalah masa berlaku KTP ortu. Ok setelah itu, yah tanda tangani deh.
Hari pertama, masukin berkas, si anak gak perlu dibawa, ngrepoti. Jangan lupa bawa seluruh dokumen asli yaitu
- KSK
- Surat nikah
- KTP orang tua (kalau yang memasukkan hanya salah satu pihak, maka KTP pasangan cukup fotocopynya saja.
- akte kelahiran sang anak
- paspor ortu jika ada
Hari ke dua, datang untuk bayar. Thank God, harga turun Rp. 255.000 per gundul. lumayan.
hari itu juga foto. Makanya anaknya harus diajak.
Terakhir setelah di foto, jangan lupa karena harus tanda tangan lagi (ortunya), maka si pengantar mestinya gak ganti, jangan, misalnya kemarin bapaknya yang masukin berkas, trus hari ini emboknya yang nganter foto. Menghindari timbul masalah!!
Nah, habis foto dan tanda tangan, tiga hari kerja, paspor sudah jadi.
Pengalaman lagi nih. Waktu ambil paspor jadi ini saja, aku ampe dua kali karena salah jam. Paspor bisa diambil mulai jam 13. sampe jam 16 ajah.
Thursday, January 13, 2011
Ujian Kualifikasi Dua
Kemarin jadi tanggal bersejarah buatku. Catat!! tanggal 12 Januari 2011, aku menjalani ujian kualifikasi ke dua atau nama lainnya sidang komisi pembimbing ke dua. Alhamdulillah, meskipun termasuk agak telat dibanding teman-teman sekelas. Surprise-nya adalah, teman-teman mengadakan pertemuan di kampus. Jadi seakan-akan suporter banyak. Habis ujian, kami makan-makan lagi. Bukan aku yang nraktir. Ini memang kebiasaan kami, urunan untuk keluar makan-makan sekelas. Btw, terimakasih banyak temans.
Surprise lagi, kami juga berhasil meminta berfoto dengan KPS, Prof Ubud Salim. Wah, ini kesempatan langka. Pokoknya hari kemarin istimewa sekali bagiku.
Hasil ujiannya sendiri sih, intinya, aku dibanting sama promotorku. proposalnya jelek, katanya.
yah... aku thenger-thenger, deh. Pengen rasanya segera pulang, ngadep komputer lagi, perbaiki lagi.
Aku mencoba berpikir positif. Gemblengan profesorku membuatku lebih kerja keras belajar. Go Doctor!!!
Surprise lagi, kami juga berhasil meminta berfoto dengan KPS, Prof Ubud Salim. Wah, ini kesempatan langka. Pokoknya hari kemarin istimewa sekali bagiku.
Hasil ujiannya sendiri sih, intinya, aku dibanting sama promotorku. proposalnya jelek, katanya.
yah... aku thenger-thenger, deh. Pengen rasanya segera pulang, ngadep komputer lagi, perbaiki lagi.
Aku mencoba berpikir positif. Gemblengan profesorku membuatku lebih kerja keras belajar. Go Doctor!!!
Labels:
disertasi,
review jurnal,
ujian kualifikasi dua
Subscribe to:
Comments (Atom)

